7 Cara Bedakan Henna Abal-abal dengan yang Asli Natural

7 Cara Bedakan Henna Abal-abal dengan yang Asli Natural

Henna adalah tumbuhan alami dengan nama latin Lawsonia inermis yang unsur daunnya ditumbuk dan telah dipakai sejak zaman Mesir Kuno. Awalnya, pemakaian henna dikenal di sejumlah negara laksana Afrika, semenanjung Mediterania, Timur Tengah dan India guna mempercantik kulit dan tubuh. Lalu henna mulai masuk ke Indonesia sebagai kebiasaan yang diangkut oleh orang-orang Timur Tengah terutama untuk melukis tangan sebagai adat pernikahan. Saat ini, tren pemakaian henna semakin meluas, nggak melulu untuk melukis tangan di hari istimewa, henna pun kerap dipakai untuk mengecat kuku dan rambut, atau tato temporer guna bergaya.

Meski tidak sedikit yang memercayai bahwa henna mempunyai sifat alami dan aman digunakan, usahakan anda tetap berhati-hati sebelum memakai tato henna. Apalagi sempat terdapat penyataan dari American Academy of Dermatology bahwa tato henna dapat menyebabkan reaksi alergi, laksana yang dikutip dari laman nbcnews. Henna yang dimaksud telah dibaur dengan bahan kimia berbahaya.

7 Cara Bedakan Henna Abal-abal dengan yang Asli Natural
7 Cara Bedakan Henna Abal-abal dengan yang Asli Natural

Agar lebih waspada, agenbolaonlineterpercaya Tips punya petunjuk singkat untuk memisahkan mana henna yang pribumi natural dan henna riskan dengan gabungan bahan kimia. Simak baik-baik, ya!

1. Bentuk atau teksturnya; henna alami seringkali dikemas dalam format bubuk, henna dalam format cair lebih berisiko dibaur dengan bahan kimia

 

Biasanya, henna alami ini dikemas dalam format bubuk yang dicairkan dengan sebanyak materi alami laksana teh pekat, air lemon bahkan sejenis cairan kayu putih untuk menolong menghasilkan warna yang kuat, pekat, dan hasil yang lebih tahan lama. Namun kini, makin tidak sedikit beredar henna dalam format gel atau pasta yang dikemas dalam cone maupun wadah kecil siap pakai.

Waspadai henna berbentuk cairan yang nggak kental laksana pasta dan dapat langsung digunakan. Henna cair laksana ini lebih gampang dicampuri bahan kimia lain guna menghasilkan warna yang lebih pekat. Karena bentuknya yang cair, kiat aplikasinya tidak lagi diukir tetapi dilukis.

2. Komposisi atau kandungannya; henna dengan kandungan Para-phenylenediamine (PPD) butuh diwaspadai pemakaiannya

 

Henna alami diciptakan dengan memakai bahan-bahan herbal laksana bubuk henna (Lawsonia inermis) yang dikombinasi dengan air perasan jeruk lemon, essensial oil dan gula. Sedangkan henna yang berisiko alergi seringkali ada kandungan Para-phenylenediamine (PPD) yang biasa dinamakan tar batubara.

PPD sendiri telah familiar dipakai pada gabungan produk cat rambut. Senyawa ini bakal memberi efek pewarnaan hitam pekat pada henna dengan tekstur yang lebih kental dan efeknya yang tahan lama. Bagi sejumlah orang dengan kepekaan khusus, produk berbahan PPD ini akan mengakibatkan alergi. Gejalanya dapat berupa ruam, gatal, peradangan, timbul keloid, kulit melepuh, sampai bekas luka yang menyusun relief di dekat kulit. Efek yang sangat berbahaya ialah gangguan pernapasan, hati, sampai penyakit kanker darah.

Nah, dalam melakukan pembelian produk apapun, sempatkanlah untuk menyimak komposisinya untuk menyaksikan kandungan apa saja yang terdapat di dalamnya. Jangan melulu tergiur pada kelebihannya saja kemudian kita tak sempat efek sampingnya.

3. Warna bahan inilah yang dihasilkannya; henna alami menghasilkan warna-warna terang seperti oranye sampai merah kecokelatan. Sedangkan henna berwarna hitam bisa jadi besar berisi PPD

 

FYI, warna yang pribumi yang didapatkan henna natural ialah reddish-brown atau oranye yang ingin menuju merah kecokelatan. Setelah henna diaplikasikan, kering dan rontok, bakal tersisa warna orange semi kuning di kulit, warna ini bakal berubah semakin gelap (beroksidasi) menjadi cokelat kemerahan dalam masa-masa 48 jam. Warna akhir ini tergantung pada sifat kimia di kulit atau tubuh si pemakai, lain orang bisa lain level warnanya. Belum lagi andai ada perbedaan brand henna yang digunakan.

Jika terdapat warna yang lain laksana hitam atau warna gelap lainnya, berarti henna tersebut nyaris 100% berisi zat pewarna rambut. Biasanya ketika digunakan, henna bakal tetap berwarna hitam, baik saat diaplikasikan maupun sesudah rontok atau sejumlah waktu dibiarkan.

4. Jangka masa-masa henna mengering; henna alami memerlukan waktu lebih lama guna mengering, sedang henna dengan gabungan kimia bakal mengering lebih cepat

 

Segala sesuatu yang alami memang perlu waktu guna bereaksi, nggak laksana produk kimia yang dapat mengganti sesuatu secara instan atau super cepat. Serbuk dari tanaman henna itu umumnya berwarna hijau dan bakal berubah warna menjadi merah kecokelatan ketika dibaur dengan air. Hingga sampai etape ini, henna terbilang aman guna digunakan. Setelah henna alami berlalu diaplikasikan, proses pengeringan akan memerlukan waktu selama 6 sampai 8 jam. Setelah kering, warnanya juga nggak spontan keluar, tetapi melewati proses selama 24 -48 jam. Warna henna bakal semakin cerah dan ketahanannya di kulit dapat mencapai 10 hari. Tentunya, tergantung dari teknik peracikan setiap henna-nya.

Sedangkan henna berbahan kimia nggak memerlukan waktu yang lama guna mengering, warnanya pun bakal langsung keluar melulu dalam hitungan menit. Hal ini lah yang membuatnya nggak aman guna kulit, sebab untuk menerbitkan warna dengan cepat dan instan memerlukan zat aditif atau bahan kimia campuran.

5. Baunya; henna alami berbau khas jamu atau tanaman kering, sementara henna abal-abal berbau zat kimia yang menyengat

 

Di samping dari tekstur, warna dan proses pengaplikasiannya, kemurnian henna juga dapat dideteksi dari baunya. Jika baunya serupa-serupa herbal, jamu, potongan rumput atau sejenisnya, berarti henna itu asli natural. Namun andai baunya serupa bahan kimia yang menyengat dan nggak mengenakkan, maka segera jauhi saja.

6. Tes kepekaan kulit; henna alami nggak akan memunculkan reaksi apapun di kulit selain evolusi warna, henna berbahan kimia akan memunculkan reaksi alergi atau iritasi

 

Karena masing-masing orang mempunyai jenis kulit yang berbeda-beda, terdapat baiknya anda mengetes kepekaan kulit terlebih dahulu sebelum benar-benar menggunakannya.

Caranya, tempelkan tidak banyak tinta henna pada permukaan tangan atau kulit belakang telinga, tunggu selama 30 menit hingga kering atau rontok. Lihat reaksinya, andai nggak memunculkan tanda-tanda masalah, lanjutkan pemakaian. Namun andai terjadi reaksi alergi atau iritasi laksana gatal-gatal, terasa panas atau kulit menjadi merah, segera hentikan. Artinya kulitmu intoleran terhadap kandungan dalam henna tersebut.

7. Terakhir, bedakan antara henna untuk mengecat rambut dan henna yang khusus dipakai untuk melukis dan mengecat kulit

 

Sesuai keterangan di awal, sekitar ini henna sering dimanfaatkan untuk mengecat kulit, kuku, dan pun rambut. Namun, baiknya pemakaiannya pun nggak asal-asalan. Perhatikan dulu spesifikasi dalam kemasannya, guna kulit, kuku atau rambutkah? Jika nggak tercantum atau malah tertulis bahwa henna itu nggak diutamakan untuk unsur tubuh tertentu alias dapat dipakai baik di kulit, kuku, maupun rambut, usahakan memahami kandungan bahannya dengan menyimak komposisi pada kemasan. Henna yang berisi PPD seringkali diperuntukkan bikin rambut, maka hindari kontak dengan kulit. Lagipula, tekstur rambut dan kulit anda berbeda. Jadi tidak boleh menggunakan produk guna rambut pada kulit, begitu juga sebaliknya.

Demikian pembahasan singkat untuk memahami dan memisahkan henna yang pribumi natural dengan henna yang berbahan kimia berbahaya. Satu lagi tips, usahakan hindari untuk memakai jasa melukis tato temporer yang sering berkeliaran di tempat-tempat wisata, karena dapat jadi mereka memakai henna berwarna hitam yang berisiko alergi. Tato henna memang cantik, tapi anda harus hati-hati memakainya. Jangan hingga keindahan goresan henna mengorbankan kesehatan kulit juga, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *